Dibaca ya...

Kisah Pilu Babil, Bocah Kelas 6 SD, Rawat Kedua Orang Tua yang Lumpuh

196
kisah pilu babil rawat orang tuanya yang lumpuh(1).png
kisah pilu babil rawat orang tuanya yang lumpuh 3(1).png
Kisah Pilu Babil, Bocah Kelas 6 SD, Rawat Kedua Orang Tua yang Lumpuh. Foto: Tangkapan layar Facebook Yuni Rusmini
Rumah itu 

Rumah itu terlihat sederhana dengan dinding yang terbuat dari seng dan anyaman bambu. Di salah satu sudutnya terlihat sebuah lemari pakaian tak berpelitur. Tak jauh dari sana terpajang jam dinding yang detik demi detiknya barangkali selalu mengiringi kehidupan Kamaluddin Dg. Beta dan sang istri Karannuang Dg. Sunggu.

Pasangan suami-istri yang tinggal di Dusun Topejawa Lama, Desa Topejawa, Kecamatan Marbo, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, itu hanya bisa menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Satu-satunya harta terbesar yang mereka miliki yaitu sang buah hati. Ia bernama Babil.

Bocah bertubuh tambun itu setiap hari dengan sabar merawat kedua orang tuanya yang saat ini lumpuh. Usia baru 12 tahun dan saat ini tengah duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Tak ada waktu bermain seperti yang dilakukan oleh anak-anak seusianya.Kisah Pilu Babil, Bocah Kelas 6 SD, Rawat Kedua Orang Tua yang Lumpuh. Foto: Tangkapan layar Facebook Yuni Rusmini

Kehidupan keluarga Babil mulai berubah sejak sang ibu, Dg. Sunggu, menderita penyakit delapan tahun silam yang membuatnya tidak bisa berjalan. Namun, cobaan kembali datang pada akhir tahun 2019. Sang ayah yang dulu berprofesi sebagai tukang servis barang-barang elektronik mengalami stroke hingga lumpuh.

“Bulan 12 tahun 2019 bapak saya jatuh sakit. Bapak saya mengalami stroke dan lumpuh. Bahkan, untuk berbicara pun bapak saya sudah tidak bisa,” ungkap Babil, seperti dikutip dari unggahan Facebook Yuni Rusmini, Rabu (3/6).

Keadaan itu memaksa Babil merawat kedua orang tuanya yang hanya menghabiskan waktu di tempat tidur. Mulai dari menyuapi makan, memandikan, hingga membersihkan kotoran saat orang tuanya buang air besar.

Tak hanya itu, segala pekerjaan rumah juga menjadi tanggung jawab Babil, termasuk mencuci pakaiannya sendiri dan kedua orang tuanya. Semua itu dilakukannya dengan sabar di tengah keinginannya bisa bermain dengan teman-teman seusianya.

“Saya punya mimpi indah, saya ingin sekolah, saya ingin bermain seperti anak-anak pada umumnya,” tuturnya.

Begitulah kenyataan kehidupan yang dijalani Babil. Perjuangan merawat kedua orang tuanya yang lumpuh dengan penuh semangat dan kesabaran itu akhirnya menuai simpati dan empati setelah kisahnya beredar di media sosial.

Laman: 1 2

close