Dibaca ya...

Anak Cacat Putra Pengasong Itu Ingin Jadi Ahli Komputer

21

“Deni dulu termasuk anak yang rajin dan pintar. IQ-nya terbilang melebihi murid lainnya di sini,” kata karyawan Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), Kebayoran Baru.

Baca Ikhtisar – Matahari belum terbit. Deni Nurjaman dan sang ayah sudah sibuk memulai hari. Bersiap mengarungi kerasnya Ibukota. Mengadu nasib demi menyambung hidup.

Saban hari, Deni ikut sang bapak mengasong. Dia selalu berada di atas papan beroda dengan posisi tertelungkup. Membuntut di belakang sang ayah. Ya, dengan papan yang ditarik sang ayah dengan seutas tali itulah Deni bisa ke mana-mana. Sebab, remaja ini terlahir cacat, tanpa kaki dan tangan.

Deni dan sang ayah selalu menyusuri Jalan MT Haryono hingga Gatot Subroto. Terpanggang di atas panasnya aspal ibukota. Terselip di antara jubelan kendaraan dan bergumul dengan semburan asap knalpot. Di tengah keramaian itulah mereka mengais rezeki, menjajakan dagangan, sekadar permen dan air kemasan.

Dulu, Deni pernah bersekolah. Dia mengenyam pendidikan dasar di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masih sama dengan saat ini. Deni kecil harus bersiap sejak pagi buta. Naik papan itu untuk diantar ke sekolah oleh sang ayah.

Meski dengan keterbatasan fisik, Deni tak patah semangat. Selama sekolah, Deni belajar keras untuk meraih cita-citanya sebagai ahli komputer. Di sekolah, Deni tumbuh sebagai anak yang cerdas. Salah satu seorang pengurus YPAC, yang tidak ingin disebut namanya, mengatakan, kecerdasan Deni berada di atas rata-rata anak didiknya.

“ Deni dulu termasuk anak yang rajin dan pintar. IQ-nya terbilang melebihi murid lainnya di sini,” kata ibu berbaju batik dengan kaca bulat itu saat berbincang dengan Dream.co.id di Jakarta, Kamis 18 Desember 2014. Namun, Deni tak meneruskan sekolah. Setelah lulus, sekitar 5 tahun yang lalu, Deni meninggalkan sekolahnya.

Deni dan sang ayah ini memang orang hebat. Di tengah kemiskinan yang mencekik, mereka tak menyerah. Mereka tak mau meminta-minta. Dan memilih bertahan dengan mengasong. Dan Tuhan tidak tidur. Pada 2006 silam, Deni berkesempatan memainkan peran dalam Sinetron Penjaga Hati di sebuah stasiun televisi pada tahun 2006.

Deni mungkin tidak seberuntung anak-anak lain seusianya yang lebih ‘mampu’. Tapi dengan semangatnya yang tinggi, Tuhan punya cara lain untuk membuat dirinya dan keluarga bahagia. semoga Deni bisa mewujudkan cita-citanya. Amin!

Laman: 1 2

close